Banpres bukan presban ~eter~


Sambil menunggu motor selesai di service isi waktu luang dengan belajar menulis blog saja,

Cerita ini sudah lama sekali sampai saya kurang ingat kapan waktu pastinya kira-kira saya masih kelas 4 atau 5 SD dimana sore itu sekitar 25 warga di minta untuk berkumpul ke lapangan desa yang jaraknya kurang lebih 3-4 km dari rumah dengan terlebih dahulu menuruni jurang melewati kali dan mendaki bukit yang curam dengan kemiringan hampir 70 derajat memang saat ini sudah jarang yang lewat kesana karena lebih memilih menggunakan jalan alternative dengan memutar melewati beberapa desa menggunakan kendaraan, sebenarnya yang diminta berkumpul adalah kepala keluarga namun saat itu bapak sedang merantau untuk memetik cengkeh ke desa tetangga disana bapak sudah kerja sampai berbulan-bulan selama musim cengkeh, jadi yang mewakili untuk berkumpul adalah ibu dan saya. Saat sudah sampai di lapangan saya liahat beberapa ekor sapi di tempatkan menjadi satu, sapi-sapi itu telinganya di tindik dengan plastic yang ukuran antingnya lumayan besar dengan nomor yang cukup bisa di lihat dari jarak 2 meteran dengan mata telanjang. Mendung mulai menyelimuti pertanda akan turun hujan namun beberapa orang mulai berdiskusi dan memutuskan untuk membuat undian dan ibu saya pun ikut mengambil undian tersebut, saya baru mengerti ketika salah satu ekor sapi yang dikumpulkan itu adalah sapi bantuan presiden (banpres) kala itu untuk penduduk untuk di pelihara.Ibu saya kegirangan karena nomor undiannya sungguh beruntung karena mendapatkan ukuran sapi yang ideal dengan body yang panjang namun tidak terlalu gemuk beberpa warga ingin menukar sapi hasil undian ibu namun ibu bilang ini sapi memang sudah jodoh kita. Tidak lama setelah pengundian selesai dan masing-masing warga mendapatkan satu persatu,  sapi-sapi itu pun di bawa beriringan layaknya demo sapi dengan suara gemuruh sapi-itu berjalan bersamaan jalanan setapak yang penuh rumput liar di pinggirnya seketika itu ter koyak-koyak oleh pijakan sapi terlebih hujan mulai turun semakin deras mengiringi perjalanan sapi yang di giring. Setelah sampai di inggir kali yang lebar itu semua warga tecengang karena air kalinya sudah meluap dan arusnya lumayan deras seukuran dada orang dewasa jembatan yang ada terbuat dari 3 batang bambu itu itu di gnakan hanya untuk penyebrangan warga bukan sapi.Hari sudah semakin sore beberapa warga berembug lagi dan mencari akal bagaimana caranya melewatkan sapi-sapi ini karena menunggu hujan reda dan air kalinya surut mungkin besok pagi baru bisa dan kita harus menginap.Warha yang pengalaman berseloroh sapi itu kuat dan dia bisa berenang di dalam keadaan mendesak dan beberapa warga lainnya bilang wah bahaya ini bisa hanyut sapinya kita harus cari cara kalau dia hanyut bisa kita selamatkan ini resiko apalagi ini sapi bantuan kalau terjadi apa-apa nanti bisa repot.Kemudian di tambatkanlah tali di pohon di seberang kali dengan arah memotong dan ujung satunya di daerah sapi ( saya ndak tau pasti darimana dapat tali panjang itu) kemudian satu persatu sapi itu di ikat di tali yang terbentang itu dengan pola sedemikian rupa alhasil sapi itu ternyata memang benar bisa berenang awalnya memang dipaksa untuk nyebur namun ketika berada di tegah air dia tidak tenggelam kepalanya mendongak dan kakinya bergerak singkat cerita tidak sampai 2 jam semua sapi itu bisa lewat dengan selamat dan kamipun melanjutkan perjalanan menuntun sapi-sapi kami masing-masing. Ditengah perjalanan satu persatu warga pamit karena arah rumahnya sudah dekat, rumah saya masih lumayan jauh dan sebenarnya rasa Lelah itu sudah tersa namun kegembiraan mendapatkan 1 ekor sapi itu membuat langkah ini tidak terasa. Sambil berjalan sapi itu sesekali berhenti dan memakan rumput di pinggir jalan dia pun merasa Lelah dan lapar karena berjalan dan kursus renang kilat tanpa sadar saya memaksa dia berjalan dan menarik-nariknya dia pun jalan lagi, sambil menarik saya menyebut et—et…et..beberpa kali dan dia jalan terus et..et dan dia jalan..dan seketika itu saya memberikan nama sapi itu dengan sebutan eter dan selanjutnya dia di panggil eter bukan sekeor sapi lagi. Dan akhirnya perjuangan saya dan ibu berhasil menambatkan si eter di sebuah pohon cengkeh tidak jauh dari rumah dan masih dalam jangkauan pandangan karena memang kita belum punya kandang khusus untuk si eter. Selang beberapa hari bapak pulang dari merantau dan membuatkan eter kendang darurat dengan atap seng dan beberapa batang bamboo sebagai tempat makanan dan alasnya masih tanah. Si eter pun sekarang sudah punya tempat tinggal darurat lumayan untuk berlindung dari terik matahari dan hujan.
 Stop dulu ya…ini ada panggilan dari bengkel bahwa motor saya sudah selesai di service..lanjut dulu nanti setelah sampai di rumah jika masih sempat menulis……
Ok lanjut ini sudah sampai di rumah Istri lagi jemput si sulung les..padahal lagi libur les tetap jalan untuk membahas laihan soal-soal dari gurunya…
Singkat cerita hari demi hari bulan demi bulan berlalu eter sudah mendadi bagian dalam keluarga dan tiap hari kami mengurusnya mencarikan rumput,membersihkan kendang dan memandikannya eter pun tumbuh dewasa dan teman-teman sebayanya peliharaan tetangga sudah ada yang hamil..oh lupa saya ngasi tau semua teman eter itu cewek ya bantuan banpres itu sistemnya adalah dengan mengembalikan anakan sapi missal eter beranak 2 ekor salah satu anaknya itu di kembalikan ke pemerintah dan didata selanjutnya di berikan ke orang yag sudah terdaftar selanjutnya menerima banpres untuk di pelihara harapannya begitu sehingga lama kelamaan sapi-sapi bantuan itu semakin banyak dan para petani bisa memiliki sapinya sendiri. Beberapa temannya eter sudah ada yang beranak dan sudah ada yang bisa sampai mengembalikan anaknya kepemerintah, kami pun berharap si eter cepat bisa menjadi ibu dan suatu hari atas saran warga yang kebetuan mainkerumah bahwa si eter itu sudah saatnya kawin. Seketika itu bapak mencarikan orang untuk melakukan inseminsai buatan (kawin suntik) eter pun dengan senang hati menjalani itu. Namun harapan itu kadang tidak sesuai kenyataan dan eter di klaim mandul istilahnya jubeng. Dengan mendapat status jubeng itu si eter mulai terkenal dan warga menyarankan agar kami tidak rugi si eter dual kemudian di belikan 2 anak sapi cewek/cowok salah satunya di kembalikan ke pemerintah jadi kita punya anak sapi milik sendiri dan sekaligus bisa menjadi modal. Namun rasa kami dengan eter sudah terlanjur sayang sehingga saran itu tetap di abaikan dan kami tetap kukuh memeliharanya dengan harapan suatu saat nanti dia bisa melahirkan keturunan. Sampai suatu ketika kandangnya eter rusak dan dia di ikat dengan 1 tali yang agak panjang di pohon cengkeh agak jauh dari rumah namun masih terdengar suara kalung keroncongan yang tergantung di lehernya kalo istilah yang saya denger di namakan okokan. kalo yang ndak tau okokan ini gambarnya saya jadikan bell rumah sangat klasik deh.              

kebetulan di kasi satu sama mertua. Sekedar info dikit mertua saya jualan alat-pertanian termasuk juga okokan ini di pasar jika ada yang mau pesan bisa di pesan di kolom komentar untuk koleksi.

Bagai di sambar petir sepulang sekolah saya di kabari oleh tetangga di jalan menuju kerumah dia membawa baskom dengan penuh daging di dalamnya dan yang masih saya ingat dalam bahasa bali “Ne ben sampin caine, ye mati megantung tuni semengan” artinya ini daging sapimu dia mati tergantung tadi pagi. Ah itu eter masa kemaren saya carikan dia rumput dan baik-baik saja. Dengan cepat-cepat setengah berlari saya menelusuri jalan turunan menuju rumah ternyata benar saja sudah banyak orang yang berkumpul memotong si eter.air matai ni sudah tidak terbendung lagi dan bertanya kepada ibu dan bapak yang bengong memandangi para warga yang membagi si eter dan bercerita kronologi kejadiannya dengan lirih. Si eter mati dengan terikat lehernya begitu kencang di pohon cengkeh, talinya yang agak panjang itu petakanya kakinya si eter tersangkut dan dia berusaha berontak karena semakin berontak ikatannya semakin kuat menjerat lehernya yang sampai membuat dia sulit bernafas. Mungkin saat itu eter sangat merasa kesakitan dan kami sudah tertidur pulas sehingga suara keroncongannya tidak bisa membangunkan kami..”Maafkan kami eter”…Setelah bapak tau eter mati lalu menghubungi para warga dan menghubungi perangkat desa dan di cek ternyata benar eter mati karena terlilit talinya sendiri bukan karena kesengajaan. Barulah setelah di cek itu, agar tidak sia-sia si eter di potong dan di bagi dagingnya karena kematiannya kurang dari 1 jam jadi darahnya masih mengalir sehingga dagingnya masih layak untuk di konsumsi begitu kata para warga. Eter pun di bagi menjadi beberapa bagian ,untuk mengurangi beban penderitaan kami bagian daging si eter itu dibayar se iklasnya dan di kasi ke kami. Tidak seberapa dengan korban perasaan kami kehilangan si eter. Saya pun dari saat ini sudah mulai sedikit memahami apa itu kehilangan. Memang kenangan Bersama eter sangat banyak pernah suatu hari saya di suruh mengajak si eter untuk ke tempat permandian yang tidak jauh dari rumah bapak sudah membuatkan kubangan khusus buat dia yang penuh lumpur.sebenarnya itu bukan mandi sih karena sehabis mandi si eter bukannya bersih tapi kotor minta ampun hahah.namun bapak tetap bilang bahwa itu mandi ya sudah saya terima saja. Alasan bapak si eter itu perutnya panas dengan dia berendam di lumpur itu nanti bisa sejuk dan itulah mandi ala dia, sehabis mandi benar nafsu makan eter sangat tinggi sampai beberapa hari kedepan.Seelum sampai di permandia itu saya mencoba naik kepunggung eter tanpa pengaman ataupun pelana, saat naik diatas punggungnya dari dahan pohon kopi, si eter baik-baik saja saya berpikir dia jinak , bisa lah di naiki sambil di latih kayak kuda toh punggungnya sangat kekar dan lebar (nggapan anak konyol..jangan sekali kali mencoba menaiki hewan yang belum terlatih seperti saya) namun itu bukan akhir cerita ketika baru jalan beberapa meter tiba-tiba si eter berlari beringas dan sayapun tidak kuat berpegangan dan terlempar jauh dari punggungnya dan babak belur si eter lepas dan terus berlari sampai di tempat kubangannya itu dan langsung nyemplung dengan santainya saya dengan tertatih-tatih bangun dan balik kerumah sambil menangis. Bapak pun menayakan dan saya bilang tadi naikin eter dan terlempar, sebenarnya bapak marah namun dia bilang sapi itu bukan kuda yang bisa di tunggangi punggungnya akan terasa ngilu jika ada sesuatu di atasnya dan berusaha menghilangkannya, untung saja adegan berbahaya itu tidak membuat kamu patah tulang ketika pas jatuh terlempar itu mengenai benda atau ranting yang tajam. Dari kejadian itu saya menjadi kapok dan tidak pernah lagi melakukan adegan sirkus berbahaya itu.

Demikian cerita singkat berapa bagian kenangan masa kecil yang Indah dan tidak terlupakan. Hari sudah sore lanjut dengan kegiatan yang lainnya dulu ya..cerita lainnya masih banyak klo ada waktu saya akan tulis lagi di blog ini..mohon kritik dan sarannya untuk memperbaiki kosakata terimakasih sudah membaca..

Salam dari anak gembala eter

Komentar