Hari Kelabu
Kenapa di beri judul hari kelabu yah mungkin sebagian sudah menebak dalam hati apa isi dari tulisan ini, ya benar ini tentang kesedihan yang terjadi pada tanggal yang sama hari ini tepat 1 th yang lalu. Memang kesedihan itu seharusnya kita cepat lalui atau istilah kerennya mungkin Move On namun kesedihan itu juga ada kadarnya jika kadarnya sedikit kita mudah untuk melupakannya 1 atau 2 hari sudah bisa hilang namun jika kadarnya sudah pekat maka waktu untuk melupakannya juga akan lama, kadar yang saya maksud disini adalah kenangan atau kejadian2 yang kita ingat sewaktu bersama dengan orang yang kita kasihi. Ok fine demikian sekilas tentang kadar atau kenangan, sebenarnya saya hanya ingin mencurahkan isi hati sambil belajar menulis semoga bisa menjadi fantasi kenangan bagi para pembaca dan jika ada hal2 yang kurang berkenan saya mohon maaf ini hanyalah pengalaman pribadi saya saja, jika sepaham silahkan lanjut membaca jika tidak dimana tidak cocok segera close dan lupakan.
Hari itu seperti biasa saya bangun pagi dan mengecek HP tiba2 ada 1 miscall dari paman di kampung, dalam hati ada yang tidak enak dan langsung saya telpon balik saya tanyakan ada perihal apa kemudian paman bilang bahwa bapak sempat jatuh di depan kamar mandi dan saat ini kondisinya drop, kemaren sempat makan nanas di kebun dan tidak bisa ke belakang saya di minta pulang sambil membelikan obat pencahar.Tanpa pikir panjang saya hubungi atasan dengan pesan whatsapp untuk minta ijin dan di persilahkan tapi jangan lupa mengisi di aplikasi cuti kebetulan perusahaan saya bekerja sudah menerapkan sistem penggajian dan cuti online. Tidak lupa juga saya minta istri untuk minta ijin ke sekolah melalui whatsapp group sekolahnya sambil di perjalanan kita urus perihal ijin meninggalkan pekerjaan dan ijin sekolah, sampai di rumah saya lihat bapak sudah pucat dalam keadaan sadar dan segera minta obat pencaharnya di eksekusi di duburnya kemudian selang beberapa saat obatnya berfungsi dan bapak langsung minta di antar kebelakang saya papah dan temenin dia menyelesaikan tugasnya dan di bersihkan. setelah itu saya ajak dia ke kamar untuk rebahan sebentar dan sambil saya suapin makan dan bujuk dia untuk dia ajak ke dokter, namun bapak tetap tidak mau di ajak ke dokter dan hanya minta di belikan obat sakit perut saja, sambil menunggu dia mau di ajak ke dokter kita beres2 di kamarnya maklum namanya orang tua yang tinggal sendiri tdak begitu peduli dengan keadaan didalam kamarnya itu banyak sekali barang-barang yang di kumpulin yang membuat suasana agak sumpek menurut saya, atas seijin dia barang2 itu saya keluarin dan yang tidak berguna saya kumpulin di karung dan ada juga di bakar seperti plastik2 bekas korek api gas (yang masih bisa di pakai senternya) kasian untuk di buang. Bapak seorang perokok berat jadi hal2 yang berhubungan dengan rokok hampir 30% ada di kamarnya. Sambil kita keluarin barang2 bapak memantau satu persatu dan bangun dari rebahannya kemudian duduk di kursi depan kamarnya, barang yang kita keluarin di sortir sama dia mana yang boleh di buang dan mana yang di simpan. Mungkin ada sejam kegiatan ini berlangsung dan kembali saya bujuk bapak untuk ke dokter dan kali ini dia mau dan segera dia mengunci kamarnya dan kuncinya di masukkan di tas pinggang kecilnya langsung saya naikkan ke motor untuk di bawa ke area jalan raya tempat saya parkir mobil. Rumah kami itu berada di area bawah jalan raya kira2 100 meter dengan tanjakan yang lumayan tinggi yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Tanpa ba bi bu langsung saya ajak masuk di mobil saya dan bapak saja tancap gas mencari dokter di daerah kota kecil jaraknya kurang lebih 10-12 km klo bawa mobil bisa di tempuh 20-25 menit karena jalannya masih ada beberapa bagian yang hanya ada batu kalinya jadi tidak bisa cepat2, klo bawa motor banyak jalan shortcut yang bisa di tempuh dengan medan extrim
tentunya namun dengan keahlian2 orang disana biasa ngebut walau hanya jalan setapak kayak crosser gitu degan membawa beban berat sepeda motor meraung2 di tanjakan dengan trik setengah kopling jika tidak kuat, ok lanjut singkat cerita sampailah saya di kota kecil yang dituju kemudian saya langsung mencari dokter yang buka prakteknya. Saya turunin bapak dan di periksa dokter beberapa kali di periksa denyut nadinya dan dokternya bilang kondisinya sangat lemah bapak saya tanya ke dokter "Berapa tensi saya dok, berapa panas saya dok, apa masih normal?" begitu seru nya kemudian dokter menjawab datar kondisi bapak lemah dan perlu segera penanganan intensif dan saya di arahin ke puskesmas pusat dan disana ada perlengkapan lebih lengkapnya. dan langsung kami ke puskesmas disana kam bertemu juga dengan tetangga yang sedang bertugas sebagai bidan dan langsung di minta teman dokternya untuk memeriksa bapak dan dokter itu menanyakan apa keluhannya, apa terakhir di makan karena di bilang ini bukan sakit perut biasa akibat salah makan nanas bukan sesederhana itu penyakitnya perlu di periksa dengan alat USG atau alat radiology agar bisa lebih lengkap dan itu hanya ada di Rumah sakit, dari sini mulai saya merasa panik dan mulai menelpon keluarga di rumah dan kemudian istri, paman ,sepupu semua berdatangan ke puskesmas dan karena mempertimbangkan jarak dan waktu maka di sepakatilah kami di rujuk ke RS di daerah singaraja daripada ke RS daerah tabanan, sebelum berangkat bapak minta di belikan teh hangat dan tipat sate saya ajak mampir di pasar senggol sebentar untuk membeli teh hangat dan tipat sate yang di makan hanya tipatnya saja. Kemudian saya di temani istri berangkat ke RS singaraja dan anak2 saya tinggal di rumah bersama paman, di perjalanan bapak mengeluh tidak enak dan muntah2 beberapa kali di dalam mobil saya kira itu teh yang di minumnya beberapa saat lalu namun belakangan saya baru sadar bahwa itu adalah darah yang berada di lambungnya, kira2 perjalanan kurang dari 1 jam sampailah saya di RS terdekat langsung saya masuk ke UGD nya namun hanya beberapa menit dokternya bilang ini harus di bawa ke RS Singaraja kota karena disini tidak ada alat USG saya langsung saya gendong bapak dan naikkan ke mobil lagi menuju RS di wilayah kota dengan suasana hati gundah sampai di RS tujuan langsung ke UGD dan bapak langsung di kasi 2 infus di tangannya, keadaan bapak masih sadar dan bisa di ajak ngobrol dan selanjutnya saya di panggil dokter yang jaga dan bilang kondisi bapak seperti perkataan dokter di puskesmas bahwa perutnya kaku dan perlu di lakukan Foto Rontgen, setelah mendapat giliran langsung bapak di masukkan ke ruang pengambilan gambar dan selanjutnya balik lagi ke UGD dan di pasang selang masuk dari hidung dan langsung kelambung cairan coklat kehitaman langsung mengucur deras keluar dari lambungnya kira2 1 liter lebih saya tanya itu cairan apa saja kalau teh ndak mungkin sebanyak itu karena bapak hanya minum sedikit dan sudah di keluarkan di mobil dokter jaga menjawab itu darah di lambung. Sudah hampir tengah malam sepupu yang bertugas di singaraja datang menghampiri ke RS bersama keluarga dan istri saya merasa tidak enak badan karena memang dia baru sembuh dari sakit dan saya minta dia ke tempat tinggal saudara untuk istirahat, saya pun di kasi minjam jaket yang dipakai oleh sepupu, setelah mendapat info kamar bapak akhirnya mendapat kamar di ICU, ruangan itu berada di lt2 rs bapak di pindahkan ke bed yang bisa di dorong kemudian di naikkan dan saya ikuti lorong tersebut sangat sepi dan remang di lt 2 saya liat rs ini masih tahap pengembangan jadi masih ada bahan2 bangunan selanjutnya tibalah di ruagan yang di sebut itu dan bapak di baringkan disana saya hanya mengintip dari kejauhan. Sekitar 1 jam an saya duduk di luar sambil memandangi kota singaraja sejauh mata memandang dimalam hari dengan hati galau di depan pintu saya liat beberapa orang penunggu keluarganya yang berada di dalam ruangan yang sama dengan bapak sudah pada tertidur pulas tiba2 ada orang yang mendekati pintu dan menyebut nama bapak saya "keluarga bapak wayan wijatha bisa kedalam" saya pun mendongakkan kepala dan langsung beranjak kedalam, sampai di dalam ruangan yang dingin itu untung saya dapat minjam jaket kalau tidak mungkin sudah menggigil disana, sampai di dalam saya hampiri bapak dan ajak ngobrol ringan bapak sempat berseloroh mengenai kondisinya namun sya tetap menguatkan dia bahwa semua akan baik2 saja, namun bapak sudah tau bahwa kondisinya semakin lemah dan saya di minta untuk membuka oksigen di mulutnya dan bapak mulai mengigau membahas yang tidak masuk akal dan beberapakali mencabut selang yang ada di hidungnya karena sulit bernafas, perawatpun saya panggil beberapa kali untum membetulkannya sampai akhirnya perawatnya mengikat tangannya karena bapak sudah tidak menghiraukan dan terus saja mencabut apa saja yang menempel sambil memejamkan matanya.
karena capek dan ngantuk saya sempat tidur kurang lebih 20 menit di sebelah tempat tidur bapak dengan posisi duduk namun saya sangat kaget sekali hal yang tidak terduga terjadi kondisi bapak mulai drop dan kali ini saya panggil dia hanya menoleh dengan tatapan mata kosong seolah-olah memberi saya isyarat bahwa dia akan pergi. Pertama kali saya melihat orang yang akan pergi dan melepas semua keduniawian ini sewaktu saya sudah tamat SMA dia adalah kakek jauh yang dulu tinggal di karang asem dan tinggal di desa saya saat itu saya menemani di RSAD singaraja nafas naik turun suhu tubuhnya juga naik turun dan perlahan-lahan nafasnya semakin mengecil dan lama2 hilang berbekal pengalaman itu saya menatap bapak dengan tatapan kosong dan paman saya kabari tentang kondisi bapak dan di WA group keluarga , kakak yang di denpasar dan di luar negri juga saya kabari agar semua terinfo tentang kondisi nya dan mereka mengkonfirmasi pulang, menghadapi suasana itu rasanya sangat berat sekali kemudian saya telp istri yang baru berapa jam istirahat di tempat sepupu dan tak lama kemudian mereka datang dan kondisi bapak sudah tidak bisa di utarakan dengan kata-kata bed side monitor denyut nadi dan respirasi oksigen sudah tidak beraturan angkanya semakin lama semakin mengecil perawat yang bertugas berusaha memberikan CPR di dadanya bapak beberapa kali sampai lelah saya sadar perawat itu hanya berusaha memberikan pertolongan dan memang tuhan yang menentukan ada kurang dari 2 jam kondisi bapak sudah semakin lemah dan dalam hati saya berbisik tuhan jika memang sekarang waktunya silahkan sembuhkan sakitnya bapak jam 5 kurang 10 pagi tgl 14 yang dimana sebagian anak muda merayakan hari kasih sayang dengan ungkapan sebatang cokat dan belakangan saya liat di supermarket ada paket coklat dan alat kontrasepsi itu saya juga tidak begitu paham apa korelasinya tapi sudahlah ndak usah bahas itu namun pada hari itu saya mendapatkan hadiah kehilangan bapak, dia menyusul ibu saya yang sudah lebih dahulu mendahuluinya ketika itu saya masih duduk di bangku SMP kelas 2 saat itu ibu sakit beberapa lama dan di ajak ke RS di tabanan dan saya tidak di ajak karena sekolah dan disuruh menginap di tempat nenek, saya baru tau ibu meninggal ketika berangkat kesekolah dan dikasitau oleh teman sekolah bahwa ibu saya sudah pulang dari RS tadimalam dan di perlihatkan ini bekas mobilnya seketika itu juga saya berlari pulang dengan menerka nerka klo pulang dengan kondisi sembuh ndak mungkin malam sekali namun tetap saya mengesampingkan asumsi yang saya buat tanpa melihat kenyataan dan benar sampai di rumah kondisi rumah sudah bersih semua kursi-kursi sudah hilang dan di ganti dengan tikar untuk duduk banyak orang langsung saya di sambut oleh nenek dan di peluk bilang ibu sudah sembuh dan sudah tenang di alam sana bagai disambar petir rasanya waktu itu, namun kesedihan itu seiring waktu bisa saya terima dan memang sudah jalan hidup jadi semua di lalui dengan easy going bersama bapak. Hari-hari kita lalui berdua saat itu saya sekolah dan bapak jadi ibu sekaligus juga bapak sampai saya tamat SMP kemudian melanjutkan ke jenjang berikutnya saya sempat ngobrol-ngobrol ringan sama bapak bahwa nanti saya ingin sekolah di STM ini sudah pernah saya tulis di curhatan saya mengenai Ilmu pasti dan tidak pasti di blog saya ini jika ingin membacanya. Ok lanjut ke cerita bapak setelah menghembuskan nafas terakhir di ICU dan kemudian saya di miinta oleh perawat untuk menandatangini beberapa berkas administrasi setelah itu bapak di turunkan untuk di taruh di ruang yang tidak ada ventilasi sama sekali untuk beberapa saat. Setelah pagi paman datang dan kita rembug untuk selanjutnya bagaimana upacaranya karena sesuai adat istiadat kita harus koordinasi ke warga dan ke desa untuk menentukan hari baik dan sebagainya, semua itu tidak bisa saya urus sendirian keluarga yang lain saling koordinasi dan semuanya sudah diatur dan di sepakati bahwa besok pagi di kremasi karena kalau di bawa pulang dan dikubur dengan normal memungkinkan namun lewat dari jam 6 malam karena bertepatan dengan adanya upacara besar di pura besakih maka ada istilah nyengker ( tidak di perkenankan ada upacara ngaben sudah ada surat edaran dari PHDI) maka bapak di semayamkan istilahnya mekinsan di laksanakan di krematorium di wilayah singaraja namun untuk upacara ngaben bisa dilakukan di kemudian hari saat sudah ada dewasa ayu dan tentunya biaya dan akhirnya pilihan opsi kremasi ini
berjalan lancar dan berselang 1 hari hal yang tidak terduga secara sekejap hitungan jam sudah terjadi dan harus diterima bahwa itu kenyataan.
Memang semua yang ada di dunia ini hanyalah titipan dan semuanya itu akan diambil oleh -NYA dan setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Melalui tulisan ini saya hanya ingin mengenang kenangan bersama orang yang selama ini membesarkan saya dan saat ini saya harus memandang dan focus kedepan membina keluarga kecil , menyekolahkan anak sampai mereka bisa mandiri.Cerita lainnya menyusul .......
Hari itu seperti biasa saya bangun pagi dan mengecek HP tiba2 ada 1 miscall dari paman di kampung, dalam hati ada yang tidak enak dan langsung saya telpon balik saya tanyakan ada perihal apa kemudian paman bilang bahwa bapak sempat jatuh di depan kamar mandi dan saat ini kondisinya drop, kemaren sempat makan nanas di kebun dan tidak bisa ke belakang saya di minta pulang sambil membelikan obat pencahar.Tanpa pikir panjang saya hubungi atasan dengan pesan whatsapp untuk minta ijin dan di persilahkan tapi jangan lupa mengisi di aplikasi cuti kebetulan perusahaan saya bekerja sudah menerapkan sistem penggajian dan cuti online. Tidak lupa juga saya minta istri untuk minta ijin ke sekolah melalui whatsapp group sekolahnya sambil di perjalanan kita urus perihal ijin meninggalkan pekerjaan dan ijin sekolah, sampai di rumah saya lihat bapak sudah pucat dalam keadaan sadar dan segera minta obat pencaharnya di eksekusi di duburnya kemudian selang beberapa saat obatnya berfungsi dan bapak langsung minta di antar kebelakang saya papah dan temenin dia menyelesaikan tugasnya dan di bersihkan. setelah itu saya ajak dia ke kamar untuk rebahan sebentar dan sambil saya suapin makan dan bujuk dia untuk dia ajak ke dokter, namun bapak tetap tidak mau di ajak ke dokter dan hanya minta di belikan obat sakit perut saja, sambil menunggu dia mau di ajak ke dokter kita beres2 di kamarnya maklum namanya orang tua yang tinggal sendiri tdak begitu peduli dengan keadaan didalam kamarnya itu banyak sekali barang-barang yang di kumpulin yang membuat suasana agak sumpek menurut saya, atas seijin dia barang2 itu saya keluarin dan yang tidak berguna saya kumpulin di karung dan ada juga di bakar seperti plastik2 bekas korek api gas (yang masih bisa di pakai senternya) kasian untuk di buang. Bapak seorang perokok berat jadi hal2 yang berhubungan dengan rokok hampir 30% ada di kamarnya. Sambil kita keluarin barang2 bapak memantau satu persatu dan bangun dari rebahannya kemudian duduk di kursi depan kamarnya, barang yang kita keluarin di sortir sama dia mana yang boleh di buang dan mana yang di simpan. Mungkin ada sejam kegiatan ini berlangsung dan kembali saya bujuk bapak untuk ke dokter dan kali ini dia mau dan segera dia mengunci kamarnya dan kuncinya di masukkan di tas pinggang kecilnya langsung saya naikkan ke motor untuk di bawa ke area jalan raya tempat saya parkir mobil. Rumah kami itu berada di area bawah jalan raya kira2 100 meter dengan tanjakan yang lumayan tinggi yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Tanpa ba bi bu langsung saya ajak masuk di mobil saya dan bapak saja tancap gas mencari dokter di daerah kota kecil jaraknya kurang lebih 10-12 km klo bawa mobil bisa di tempuh 20-25 menit karena jalannya masih ada beberapa bagian yang hanya ada batu kalinya jadi tidak bisa cepat2, klo bawa motor banyak jalan shortcut yang bisa di tempuh dengan medan extrim
tentunya namun dengan keahlian2 orang disana biasa ngebut walau hanya jalan setapak kayak crosser gitu degan membawa beban berat sepeda motor meraung2 di tanjakan dengan trik setengah kopling jika tidak kuat, ok lanjut singkat cerita sampailah saya di kota kecil yang dituju kemudian saya langsung mencari dokter yang buka prakteknya. Saya turunin bapak dan di periksa dokter beberapa kali di periksa denyut nadinya dan dokternya bilang kondisinya sangat lemah bapak saya tanya ke dokter "Berapa tensi saya dok, berapa panas saya dok, apa masih normal?" begitu seru nya kemudian dokter menjawab datar kondisi bapak lemah dan perlu segera penanganan intensif dan saya di arahin ke puskesmas pusat dan disana ada perlengkapan lebih lengkapnya. dan langsung kami ke puskesmas disana kam bertemu juga dengan tetangga yang sedang bertugas sebagai bidan dan langsung di minta teman dokternya untuk memeriksa bapak dan dokter itu menanyakan apa keluhannya, apa terakhir di makan karena di bilang ini bukan sakit perut biasa akibat salah makan nanas bukan sesederhana itu penyakitnya perlu di periksa dengan alat USG atau alat radiology agar bisa lebih lengkap dan itu hanya ada di Rumah sakit, dari sini mulai saya merasa panik dan mulai menelpon keluarga di rumah dan kemudian istri, paman ,sepupu semua berdatangan ke puskesmas dan karena mempertimbangkan jarak dan waktu maka di sepakatilah kami di rujuk ke RS di daerah singaraja daripada ke RS daerah tabanan, sebelum berangkat bapak minta di belikan teh hangat dan tipat sate saya ajak mampir di pasar senggol sebentar untuk membeli teh hangat dan tipat sate yang di makan hanya tipatnya saja. Kemudian saya di temani istri berangkat ke RS singaraja dan anak2 saya tinggal di rumah bersama paman, di perjalanan bapak mengeluh tidak enak dan muntah2 beberapa kali di dalam mobil saya kira itu teh yang di minumnya beberapa saat lalu namun belakangan saya baru sadar bahwa itu adalah darah yang berada di lambungnya, kira2 perjalanan kurang dari 1 jam sampailah saya di RS terdekat langsung saya masuk ke UGD nya namun hanya beberapa menit dokternya bilang ini harus di bawa ke RS Singaraja kota karena disini tidak ada alat USG saya langsung saya gendong bapak dan naikkan ke mobil lagi menuju RS di wilayah kota dengan suasana hati gundah sampai di RS tujuan langsung ke UGD dan bapak langsung di kasi 2 infus di tangannya, keadaan bapak masih sadar dan bisa di ajak ngobrol dan selanjutnya saya di panggil dokter yang jaga dan bilang kondisi bapak seperti perkataan dokter di puskesmas bahwa perutnya kaku dan perlu di lakukan Foto Rontgen, setelah mendapat giliran langsung bapak di masukkan ke ruang pengambilan gambar dan selanjutnya balik lagi ke UGD dan di pasang selang masuk dari hidung dan langsung kelambung cairan coklat kehitaman langsung mengucur deras keluar dari lambungnya kira2 1 liter lebih saya tanya itu cairan apa saja kalau teh ndak mungkin sebanyak itu karena bapak hanya minum sedikit dan sudah di keluarkan di mobil dokter jaga menjawab itu darah di lambung. Sudah hampir tengah malam sepupu yang bertugas di singaraja datang menghampiri ke RS bersama keluarga dan istri saya merasa tidak enak badan karena memang dia baru sembuh dari sakit dan saya minta dia ke tempat tinggal saudara untuk istirahat, saya pun di kasi minjam jaket yang dipakai oleh sepupu, setelah mendapat info kamar bapak akhirnya mendapat kamar di ICU, ruangan itu berada di lt2 rs bapak di pindahkan ke bed yang bisa di dorong kemudian di naikkan dan saya ikuti lorong tersebut sangat sepi dan remang di lt 2 saya liat rs ini masih tahap pengembangan jadi masih ada bahan2 bangunan selanjutnya tibalah di ruagan yang di sebut itu dan bapak di baringkan disana saya hanya mengintip dari kejauhan. Sekitar 1 jam an saya duduk di luar sambil memandangi kota singaraja sejauh mata memandang dimalam hari dengan hati galau di depan pintu saya liat beberapa orang penunggu keluarganya yang berada di dalam ruangan yang sama dengan bapak sudah pada tertidur pulas tiba2 ada orang yang mendekati pintu dan menyebut nama bapak saya "keluarga bapak wayan wijatha bisa kedalam" saya pun mendongakkan kepala dan langsung beranjak kedalam, sampai di dalam ruangan yang dingin itu untung saya dapat minjam jaket kalau tidak mungkin sudah menggigil disana, sampai di dalam saya hampiri bapak dan ajak ngobrol ringan bapak sempat berseloroh mengenai kondisinya namun sya tetap menguatkan dia bahwa semua akan baik2 saja, namun bapak sudah tau bahwa kondisinya semakin lemah dan saya di minta untuk membuka oksigen di mulutnya dan bapak mulai mengigau membahas yang tidak masuk akal dan beberapakali mencabut selang yang ada di hidungnya karena sulit bernafas, perawatpun saya panggil beberapa kali untum membetulkannya sampai akhirnya perawatnya mengikat tangannya karena bapak sudah tidak menghiraukan dan terus saja mencabut apa saja yang menempel sambil memejamkan matanya.
karena capek dan ngantuk saya sempat tidur kurang lebih 20 menit di sebelah tempat tidur bapak dengan posisi duduk namun saya sangat kaget sekali hal yang tidak terduga terjadi kondisi bapak mulai drop dan kali ini saya panggil dia hanya menoleh dengan tatapan mata kosong seolah-olah memberi saya isyarat bahwa dia akan pergi. Pertama kali saya melihat orang yang akan pergi dan melepas semua keduniawian ini sewaktu saya sudah tamat SMA dia adalah kakek jauh yang dulu tinggal di karang asem dan tinggal di desa saya saat itu saya menemani di RSAD singaraja nafas naik turun suhu tubuhnya juga naik turun dan perlahan-lahan nafasnya semakin mengecil dan lama2 hilang berbekal pengalaman itu saya menatap bapak dengan tatapan kosong dan paman saya kabari tentang kondisi bapak dan di WA group keluarga , kakak yang di denpasar dan di luar negri juga saya kabari agar semua terinfo tentang kondisi nya dan mereka mengkonfirmasi pulang, menghadapi suasana itu rasanya sangat berat sekali kemudian saya telp istri yang baru berapa jam istirahat di tempat sepupu dan tak lama kemudian mereka datang dan kondisi bapak sudah tidak bisa di utarakan dengan kata-kata bed side monitor denyut nadi dan respirasi oksigen sudah tidak beraturan angkanya semakin lama semakin mengecil perawat yang bertugas berusaha memberikan CPR di dadanya bapak beberapa kali sampai lelah saya sadar perawat itu hanya berusaha memberikan pertolongan dan memang tuhan yang menentukan ada kurang dari 2 jam kondisi bapak sudah semakin lemah dan dalam hati saya berbisik tuhan jika memang sekarang waktunya silahkan sembuhkan sakitnya bapak jam 5 kurang 10 pagi tgl 14 yang dimana sebagian anak muda merayakan hari kasih sayang dengan ungkapan sebatang cokat dan belakangan saya liat di supermarket ada paket coklat dan alat kontrasepsi itu saya juga tidak begitu paham apa korelasinya tapi sudahlah ndak usah bahas itu namun pada hari itu saya mendapatkan hadiah kehilangan bapak, dia menyusul ibu saya yang sudah lebih dahulu mendahuluinya ketika itu saya masih duduk di bangku SMP kelas 2 saat itu ibu sakit beberapa lama dan di ajak ke RS di tabanan dan saya tidak di ajak karena sekolah dan disuruh menginap di tempat nenek, saya baru tau ibu meninggal ketika berangkat kesekolah dan dikasitau oleh teman sekolah bahwa ibu saya sudah pulang dari RS tadimalam dan di perlihatkan ini bekas mobilnya seketika itu juga saya berlari pulang dengan menerka nerka klo pulang dengan kondisi sembuh ndak mungkin malam sekali namun tetap saya mengesampingkan asumsi yang saya buat tanpa melihat kenyataan dan benar sampai di rumah kondisi rumah sudah bersih semua kursi-kursi sudah hilang dan di ganti dengan tikar untuk duduk banyak orang langsung saya di sambut oleh nenek dan di peluk bilang ibu sudah sembuh dan sudah tenang di alam sana bagai disambar petir rasanya waktu itu, namun kesedihan itu seiring waktu bisa saya terima dan memang sudah jalan hidup jadi semua di lalui dengan easy going bersama bapak. Hari-hari kita lalui berdua saat itu saya sekolah dan bapak jadi ibu sekaligus juga bapak sampai saya tamat SMP kemudian melanjutkan ke jenjang berikutnya saya sempat ngobrol-ngobrol ringan sama bapak bahwa nanti saya ingin sekolah di STM ini sudah pernah saya tulis di curhatan saya mengenai Ilmu pasti dan tidak pasti di blog saya ini jika ingin membacanya. Ok lanjut ke cerita bapak setelah menghembuskan nafas terakhir di ICU dan kemudian saya di miinta oleh perawat untuk menandatangini beberapa berkas administrasi setelah itu bapak di turunkan untuk di taruh di ruang yang tidak ada ventilasi sama sekali untuk beberapa saat. Setelah pagi paman datang dan kita rembug untuk selanjutnya bagaimana upacaranya karena sesuai adat istiadat kita harus koordinasi ke warga dan ke desa untuk menentukan hari baik dan sebagainya, semua itu tidak bisa saya urus sendirian keluarga yang lain saling koordinasi dan semuanya sudah diatur dan di sepakati bahwa besok pagi di kremasi karena kalau di bawa pulang dan dikubur dengan normal memungkinkan namun lewat dari jam 6 malam karena bertepatan dengan adanya upacara besar di pura besakih maka ada istilah nyengker ( tidak di perkenankan ada upacara ngaben sudah ada surat edaran dari PHDI) maka bapak di semayamkan istilahnya mekinsan di laksanakan di krematorium di wilayah singaraja namun untuk upacara ngaben bisa dilakukan di kemudian hari saat sudah ada dewasa ayu dan tentunya biaya dan akhirnya pilihan opsi kremasi ini
berjalan lancar dan berselang 1 hari hal yang tidak terduga secara sekejap hitungan jam sudah terjadi dan harus diterima bahwa itu kenyataan.
Memang semua yang ada di dunia ini hanyalah titipan dan semuanya itu akan diambil oleh -NYA dan setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Melalui tulisan ini saya hanya ingin mengenang kenangan bersama orang yang selama ini membesarkan saya dan saat ini saya harus memandang dan focus kedepan membina keluarga kecil , menyekolahkan anak sampai mereka bisa mandiri.Cerita lainnya menyusul .......



Komentar