PEDIHNYA KEHILANGAN


 Pagi itu aku bangun seperti biasa jam lima pagi bergegegas memakai baju putih dan celana biru serta sepatu untuk berangkat kesekolah dengan berjalan kaki, kali ini aku mulai berangkat 10 menit lebih cepat karena aku menginap di rumah nenek dimana jaraknya lebih jauh dari sekolah, jarak dari rumah ke sekolah klo di tempuh dengan jalan kaki dengan setengah berlari kurang lebih 45 menit jaraknya ndak pernah di hitung mungkin ada 8-10 km,ndak bisa di hitung kecepatan rata-raatanya hanya ada kecepatan denyut jantung aja. Singkat cerita setelah berjalan kurang lebih 5 menit sampailah aku di depan rumah teman jaraknya kurang lebih 10 meter dari balai banjar dan disana juga ada pertigaan jalan dimana mobil bisa dengan leluasa memutar arah, aku dihadang oleh teman dan disuruh pulang karena ibuku sudah pulang jam 12 malam dan di tunjukkan sama dia bekas mobil yang mengantar ibu untuk putar balik sontak aku melihat kebawah dan benar ada kelihatan siluet ban mobil terlihat jelas karena jalanan di kampungku waktu itu masih jalan aspal kuala lumpur eh tanah tapi lain halnya dengan sekarang berkat swadaya dan bantuan pemerintah jalan sudah di rabat beton. Kembali ke cerita kenapa aku di minta menginap di rumah nenek karena ibuku lagi di ajak ke RSU untuk rawat inap di antar oleh bapak dan nenek, dengan tanpa basa - basi aku langsung putar balik dan berlari karena di dalam pikiranku sudah ada beberapa pertanyaan orang sakit di antar pulang jam 12 malam dan tanpa di beritahukan bahwa ibuku sudah pulang, rasanya cuma berlari 2 langkah saja tiba2 aq sudah sampai saja dirumah dan aku dapati semuanya sudah bersih2 dimana rumahku cuma gsebuah gubuk kecil yang terbuat dari dinding bambu beberapa bagiannya sudah di hilangkan dan bersih langsung aq disuruh tenang oleh nenek dan bapak bahwa ibuku sudah tenang dialam sana dan benar saja aku langsung pegang tangannya sudah kaku dan aku goyang-goyang sudah kaku dan dingin, tangisku sontak pecah dan nenek bilang jangan sampai menetes dan kena airmata karena kepercayaan nanti bisa menghambat perjalanannya di alam sana. kemudian aku bertanya kepada semuanya kenapa ndak dikasi tau dulu dan membiarkan aku sampai berangkat kesekolah dulu, mereka bilang cuma masalah waktu saja ndak akan merubah apa-apa lagian kamu pasti akan langsung nangis jangankan kehilangan ibu waktu kehilangan sapi kesayanganmu aja nangis ndak ketulungan, emang si pernah aku ceritakan dimana sapi kesayanganku ether mati kena lilitan tali pernah aku ceritakan di sini. Sebelum ibu meninggal dia pernah cerita memanggilku ke tempat tidurnya dan bercerita bahwa dia sepertinya tidak bisa bertahan lebih lama lagi dengan penyakitnya dan aku di haruskan untuk bisa melanjutkan pendidikan dan menjadi anak yang berguna disaat itu kita nangis lama sekali bersama-sama dan saling berpelukan terus terang aku waktu itu masih menganggap omongannya hanyalah gurauan karena memang ibuku beberapa hari itu sudah mulai ngelantur omongannya kadang suka ngomong sendiri, hanya mau makan ketikan aku sudah pulang sekolah dengan nasi titipannya yang harus aku belikan di rumah makan kesukaannya, makanya nenek ku wanti2 jangan sampai aku ndak membelikannya dan cepat2 pulang sekolah. satu lagi yang unik dari ibuku karena dia tidak bisa berjalan maka BAB dan BAK di tempat tidur dan di tampung dalam wadah khusus karena waktu itu tidak ada teknologi pappers walaupun ada mungkin kami tidak sanggup membelinya, wadah yang sudah isi itu tidak satupun boleh membuangnya kecuali aku karena tugasku sebagai anaknya itu adalah tugas wajib yang harus dilakukan. Memang ibuku unik dan disana ada banyak pesan moral bahwa hutang anak ke orang tua tidak akan pernah bisa terbayar walau sudah melakukan apa saja. Sakitnya ibu memang sudah lama mungkin di mulai dari awalnya dia kehujanan pas pulang dari desa karena lokasinya lumayan jauh turun bukit - sungai - naik lagi ke dusun tempat rumah kami, dari itu dia demam beberapa hari dan sempat juga sembuh, pas sembuh itu pas hari minggu aku di ajak kepasar untuk membeli beras dan beberapa keperluan pas pulang dari pasar ibu minta berhenti beberapa kali karena capek padahal belanjaannya aku semua yang bawain dia hanya berjalan saja dan membawa tongkat. sangat lama sekali kita di jalan dan akhirnya itu memang hari tekhir dia berjalan kepasar. dari postur tubuh ibu memang tinggi dan berisi, sewaktu dia masih sehat sanggup membawa hasil bumi ke pasar (salak, pisang, cabe dll) bisa lebih dari 50 kg dengan cara di sunggi dan dengan medan yang licin dia mampu melewatinya sunguh luar biasa, pulang dari pasar juga masih tetap membawa beban lagi (beras dan kebutuhan lainnya) dan dengan tidak lupa membawakan aku anak kesayangan satu-satunya oleh-oleh jajanan pasar. Ketika dia sudah terbaring saja di tempat tidur banyak sekali yang dia bahas mulai dari bahan bangunan yang sudah dia kumpulkan ( batu bata dan pasir) karena ibuku orangnya sangat visioner sekali walaupun dengan modal pas-pasan tapi yakin akan mampu membangun gubuk kami mengganti dengan bangunan permanen pas waktu itu juga sebuah rumah sedang di bangun oleh keluarga dan kita patungan bahan jadi bahan yang sudah di beli sama ibu itu di pakai juga membangun rumah tersebut dan dia menyetujuinya dengan satu kamar nanti akan aq tempati dan setelah setengah jadi bangunan ibu hanya sempat melihatnya saja tanpa pernah menempatinya namun bukti kerja kerasnya sampai sekarang masih ada. Selain bertani memelihara kebun orang kita juga sempat memelihara kambing namun mungkin nasib kita ndak semujur orang lainnya yang sukses dimana kambingnya mampu beranak pinak kurang dari setahun, kambing kami ternyata bibitnya itu istilahnya jubeng jadi mungkin karena kegemukan rahimnya berlemak hehehe orang-orang bilang karena terlalu gemuk-gemuk jadi susah beranak, menurut asumsiku si karena kami kurang pengetahuan jadi dimana saat kambing birahi kami tudak tau dan tidak di carikan pejantan, dan saat tidak masa subur baru kami carikan pejantan jadi tidak terjadi pembuahan alhasil ayah jadi frustasi dan menjual kambing-kambing itu tinggallah kandangnya saja yang terbangkalai beberapa lama dan akhirnya hanya menjadi tempat menaruh kayubakar saja. Pernah juga kita pelihara sapi dan keberuntungan masih belum memihak mungkin karmanya tidak disana.

Komentar